ARTJOG: Wujud Kegigihan Seni di Masa Pandemik

ARTJOG: Wujud Kegigihan Seni di Masa Pandemik

ARTJOG: Wujud Kegigihan Seni di Masa Pandemik

ARTJOG: Wujud Kegigihan Seni di Masa Pandemik, – Meski pandemik COVID-19 belum juga usai, pameran seni rupa kontemporer ARTJOG tetap digelar dengan mengusung edisi khusus Resilience pada 8 Agustus–10 Oktober 2020 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

“Ini terinspirasi semangat para seniman yang terus berkarya di tengah keterbatasan,” kata Direktur ARTJOG, Heri Pemad.

Sedianya, ARTJOG 2020 dengan tema Time to Wonder akan digelar 23 Juli–30 Agustus 2020 namun tema tersebut terpaksa harus ditunda hingga 2021 mendatang.

COVID-19 tak membuat seni berhenti

Menurut Pemad, pandemik ini tak hanya menelan banyak korban. Ekosistem kesenian, khususnya seni rupa termasuk sektor yang terpukul hebat. Ratusan rencana pameran, art fair, festival, program residensi seniman.

Dan berbagai kegiatan publik yang menyertainya pada tahun 2020 mengalami penundaan hingga pembatalan. Termasuk ARTJOG 2020 bertema Time to Wonder.

“Yang menarik, meski ada pembatasan sosial, tapi aktivitas kesenian tidak sepenuhnya mandek,” kata Pemad.

Seniman tetap berkarya. Masa pembatasan sosial menjadi momentum mereka berfokus dengan bekerja di studio. Pemikiran dan karya-karya seni terus lahir dan dikreasikan dengan memanfaatkan teknologi.

“Itu kian menegaskan karakter para pekerja seni Indonesia yang lentur, gigih dan kreatif,” imbuh Pemad.

Situasi krisis ini justru menguji mereka untuk bisa menyumbangkan sesuatu yang lebih berarti bagi dunia.

Seniman tak hanya berkesenian, tapi juga melakukan kerja sosial

Kurator ARTJOG Agung Hujatnikajennong menjelaskan, ARTJOG: Resilience adalah kegiatan yang tidak melulu menawarkan refleksi artistik para seniman atas kondisi mutakhir seni di Indonesia pada masa pandemik. Melainkan ingin memaksimalkan semua potensi yang dimiliki ekosistem seni rupa di Indonesia.

“Inspirasi utama dari tema resiliensi adalah berbagai kerja artistik maupun sosial yang dilakukan para seniman di Indonesia selama pandemi,” kata Agung.

Situasi krisis bikin banyak seniman bergerak ulang-alik antara bekerja di rumah atau studio masing-masing. Namun tetap terlibat secara sosial dengan masyarakat luas. Selain membantu sesama seniman lewat penggalangan dana atau pameran amal, mereka juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Ini hanya bukti kecil bagaimana praktik artistik dalam ekosistem seni rupa bertumbuh dari kultur komunal yang mengakar dalam masyarakat,” imbuh Agung.

Aktivitas mereka dinilai sebuah cara pandang yang tidak memisahkan secara tegas antara praktik kesenian dengan kehidupan sehari-hari.

Edisi khusus ARTJOG: Resilience menunjukkan cara seniman beradaptasi

Dengan tuntutan untuk beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru, Heri Pemad Management (HPM) selaku penyelenggara memutuskan untuk menggelar edisi khusus ARTJOG tahun ini.

Pemad membantah penyelenggaraan edisi khusus ini sekadar latah mengikuti tata kebiasaan baru. Tak juga sekadar didasari keinginan untuk bangkit. Namun untuk menguji kembali ketahanan para perupa.

“Sekaligus ingin melihat lagi apa yang sudah kami capai sebagai festival yang telah 12 tahun berjalan. Juga harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, sesulit apapun,” kata Pemad.

Dan lahirlah edisi khusus bernama Resilience yang bermakna ketahanan atau kegigihan untuk bangkit secara cepat.

Comments are closed.