Pagelaran Seni Melayu di Pekanbaru

Pagelaran Seni Melayu di Pekanbaru

Pagelaran Seni Melayu di Pekanbaru

Pagelaran Seni Melayu di Pekanbaru, – Sosialisasi Empat Pilar MPR berlangsung di Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu malam berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sosialisasi dengan metode Pagelaran Seni Budaya Melayu Riau itu mendapat sambutan hangat oleh para peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai komunitas yang ada di Kota Pekanbaru, Riau.

Kepala Biro Humas Setjen MPR, Siti Fauziah mengatakan Sosialisasi Empat Pilar MPR tidak boleh berhenti karena amanat undang-undang.

Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada Sosialisasi Empat Pilar dengan metode Pagelaran Seni Budaya Nasional di Pekanbaru, Riau tersebut. Siti Fauziah mengatakan karena di Bumi Lancang Kuning, Riau, kental akan budaya Melayu. Maka kegiatan sosialisasi dikemas dalam bentuk Pagelaran Seni Budaya Melayu.

“MPR yang menyelenggarakan pagelaran seni budaya ini bukan untuk memberi hiburan semata. Namun juga bertujuan ikut melestarikan seni budaya itu sendiri,” ungkap Siti Fauziah.

Siti Fauziah menjelaskan alasan mengapa pelestarian seni budaya ini penting saat ini. Ia pun juga mengajak para peserta peserta dan tamu undangan untuk terus menjaga seni budaya agar jangan sampai punah.

“Karena di dalamnya terkandung semua unsur untuk kehidupan berbangsa yaitu tontonan, tuntunan, dan juga hiburan,” ungkap Siti Fauziah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Anggota MPR dari Kelompok DPD asal Riau, Dr. Intsiawati Ayus menjelaskan tentang arti pentingnya seni budaya. Intsiawati Ayus menyatakan bahwa seni diciptakan untuk memberi rasa senang.

“Seni diciptakan dengan senang dan dinikmati dengan senang pula. Jadi, antara karya seni dan penikmat seni sama-sama senang sehingga tercipta harmonisasi, rasa senang, dan bahagia,” ujarnya.

Seni Warisan Budaya Nusantara

Lebih dari itu, Intsiawati Ayus menegaskan seni juga dapat mempertajam rasa kemanusiaan, rasa nasionalisme, dan rasa patriotisme.

“Semua rasa inilah yang mempersatukan bangsa,” ujar Bu Iin seraya menambahkan bahwa siapa yang tidak berseni, dia termasuk tidak kreatif dan tidak aspiratif. “Ibarat sayur tanpa garam,” imbuhnya.

Intsiawati Ayus mengatakan dirinya merasa bangga seni budaya Melayu dapat termasuk ke dalam warisan budaya Nusantara yang adiluhung sebagai wujud dari kebhinnekaan Indonesia. Apalagi tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Intsiawati Ayus juga berbicara soal tatanan kehidupan tentu yang dituju adalah nilai. Saat bicara Pancasila, ia mengatakan nilai yang dituju adalah moral dan etika. Lalu ketika bicara soal UUD NRI Tahun 1945 sasarannya adalah tatanan hukum.

Begitu pula kalau bicara soal NKRI yang bentangannya dari Sabang sampai Merauke, nilai yang dituju adalah rasa nasionalisme dan patriotisme. Lalu saat berbicara Bhinneka Tunggal Ika maka nilai yang ingin dicapai adalah saling menghormati dan saling menghargai.

“Cubit Sabang, Merauke menjerit. Itulah nilai-nilai Empat Pilar yang menjadi karakter bangsa,” pungkasnya.

Sebagai informasi, turut hadir beberapa tamu undangan yang antusias menyaksikan pagelaran Seni Budaya Melayu Riau. Selain Intsiawati Ayus acara ini juga dihadiri oleh Ketua Fraksi Golkar MPR Idris Laena , Anggota MPR Fraksi PDI Perjuangan Sadarestuwati, Sekretaris Fraksi PKB MPR Eem Marhamah Zulfa Hiz, serta para tamu dan undangan lainnya.

Pagelaran Seni Budaya Melayu pada malam itu pun terlihat menggambarkan suasana kebhinnekaan Indonesia. Sebuah tari kolosal yang merupakan rangkaian tarian-tarian Nusantara, tampil beturut-turut tanpa jeda. Adapun tarian-tarian yang ditampilkan yaitu:

  • Tari Piring (Sumatera Barat)
  • Tari Tor-Tor (Sumatera Utara)
  • Tari Ondel-Ondel (Betawi, Jakarta)
  • Tari Bali
  • Tari Kipas (Sulawesi Selatan)
  • Tari Sajojo (Papua)

Tentu tidak ketinggalan kesenian Melayu yaitu silat, tari Persembahan, tari Lancang Kuning, puisi, dan lagu-lagu perjuangan dibawakan oleh grup musik yang tergabung dalam Komunitas Kampung Musisi Pekanbaru.

Comments are closed.